SMA NEGERI 6 MANDAU

Jl. Lintas Duri Dumai KM 18 - Sebangar

Pendidikan Untuk Mencapai Harapan Ke Depan

Perpres Sekolah 5 Hari

Selasa, 17 Oktober 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 30 Kali

Menteri  Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Efendy menyampaikan bahwa Peraturan Presiden (Perpres) tentang Pendidikan kerakter yang mengatur sekolah delapan jam atau lima hari dalam sepekan, telah diterima oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Pratikno. Dengan kata lain, tinggal selangkah lagi peraturan yang mengandung regulasi sekolah delapan jam itu akan diterbitkan.

“Sudah clear, dari kemendikbud juga sudah final (rancangannya),”  ujar Muhadjir soal Perpres Pendidikan Kerakter, di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Rabu (19/7).

Sebagaimana diketahui Perpres Pendidikan Kerakter pada awalnya adalah Peraturan Mendikbud tentang Pendidikan Kerakter. Namun, peraturan itu ditunda penerapannya kaerena dianggap berbagai pihak tidak pas. Salah satu poin yang dianggap tidak pas adalah soal sekolah delapan jam.

Berbagai pihak menganggap aturan itu memaksa murid berada di sekolah sepanjang hari. Dan, dengan berada di sekolah sepanjang hari, ditakutkan murid tidak bisa pulang ke rumah dengan segera untuk membantu orang tua atau melakukan kegiatan ekstrakurikuler seperti mengaji atau les.

Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang menyadari penolakan itu, memutuskan untuk mengkaji ulang Permendikbud. Dan, dari kajian tersebut, unsure-unsur yang selama ini dipermasalahkan akan diperjelas dan secara keseluruhan diperkuat menjadi Perpres Pendidikan Karakter. Muhadjir berkata, Perpres Pendidikan Kerakter masih akan mengandung aturan sekolah delapan jam. Namun, unsure itu tak lagi menggunakan murid sebagai acuan, melainkan menggunakan guru sebagai acuan.

Lebih jelasnya, kata Muhadjir, guru akan dikenai beban jam kerja selama delapan jam, lima hari alias setara aparatur sipil Negara. Dengan begitu, murid tak sepenuhnya lepas dari didikan guru. Di sisi lain, guru mata pelajaran dengan jam terbatas juga bisa diberdayakan.

“Secara teori, kegiatan guru apapun bisa diakui sebagai beban kerja. Contoh,menangani murid yang melakukan bullying di jam sekolah bisa di anggap masuk beban kerja. Mendidik murid pada jam ekstrakulikuler pun akan di anggap masuk jam kerja,” ujar Muhadjir.

Ditanyai apakah dia optimistis Perpres baru ini bisa diterima, Muhadjir mencoba optimistis Namun, katanya, rancangan yang sudah ia selesai  kan masih akan mendapat masukan dari berbagai pihak.

“Saya rasa tugas saya sekarang hanya memberikan pemahaman yang utuh agar tak lagi disalah artikan (seperti Permendikbud sebelumnya),” ujarnya seperti dilansir tempo.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

H. Yuliharyoto, S.Pd

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT beserta Nabi Muhammad SAW beserta sahabat-sahabatnya yang telah memberikan…

Selengkapnya